Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM.

Bahasa sederhana untuk mengungkapkan arti visi adalah sebuah impian yang dicita-citakan. Kalau anak kecil ditanyakan mau jadi apa besok? Si anak kecil biasanya menjawab mau jadi dokter, atau mau jadi insinyur, bahkan ada yang bilang mau jadi presiden. Itulah impian seorang anak, meskipun belum tahu bagaimana cara mewujudkan impian tersebut. Sekarang kita tanya kepada seorang Pemimpin rumah sakit, apa visimu? Secepat kilat bisa menjawab visi saya sebagai Pemimpin rumah sakit adalah ”menjadikan rumah sakit ini dapat memberikan pelayanan yang berkualitas, profesional, dan dipercaya pasien”. Sekilas visi rumah sakit ini sangat bagus, mantap, dan dapat bersaing dalam pelayanan.

Meskipun visi rumah sakit itu bagus dan mantap, tetapi ada anekdotnya, ada cerita yang menarik dari visi tadi berdasarkan fakta yang banyak terdapat di rumah sakit sekarang. Ceritanya begini, pada waktu rumah sakit membuat visi dan misinya, banyak terkait dengan upaya rumah sakit untuk mendapatkan sertifikat akreditasi  dari Departemen Kesehatan (DepKes). Untuk mendapatkan pelayanan rumah sakit yang terakreditasi, harus membuat visi dan misi serta harus memenuhi berbagai persyaratan lainnya.

Untuk mewujudkan visi dan misi serta persyaratan akreditasi tersebut, biasanya Pemimpin rumah sakit membentuk tim untuk merumuskan hal-hal yang harus dipenuhi dalam akreditasi agar bisa lulus akreditasi. Tim merumuskan dengan referensi dari beberapa rumah sakit atau pendapat dari pakar manajemen. Jadilah rumah sakit telah memiliki rumusan visi dan misi, dan apabila sudah mendapatkan sertifikat akreditasi maka rumusan visi dan misi rumah sakit tadi dipigura dan ditaruh di tempat-tempat strategis di lingkungan rumah sakit. Semua pengunjung rumah sakit bisa membacanya termasuk staf (karyawan) rumah sakit.

Setelah rumah sakit memiliki visi dan sudah lulus akreditasi, apa yang dilakukan Pemimpin rumah sakit selanjutnya? Mestinya Pemimpin rumah sakit merumuskan berbagai program kerja yang ditahapkan dalam beberapa periode waktu yang biasa kita kenal yaitu program kerja tahunan. Diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, visi rumah sakit itu dapat diwujudkan atau paling tidak dapat mendekati tercapainya visi rumah sakit. Seyogyanya memang demikian. Pertanyaannya, apakah pelaksanaan visi sudah dapat berjalan seperti itu? Senyatanya penjabaran visi rumah sakit tersebut belum terjabarkan dengan baik dalam program-program kerja rumah sakit dari tahun ke tahun bahkan pelayanan hanya berjalan seperti biasa sebelum kegiatan akreditasi dilakukan. Berdasarkan penelitian sebuah lembaga di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dan  hasil diskusi dengan beberapa peserta lokakarya, ternyata ada banyak rumah sakit yang menelantarkan pelaksanaan visi untuk dibumikan pada pelayanan rumah sakit sehari-hari. Sekitar 70% rumah sakit yang telah memiliki perencanaan strategi (Renstra) yang diawali dengan visi tidak melaksanakannya, alias buku Renstra hanya disimpan di rak buku Pemimpin rumah sakit. Kalau demikian, maka visi rumah sakit juga tersimpan dengan baik tanpa dipelototi bagaimana sebaiknya menjabarkannya. Jadinya, program kerja tahunan yang disiapkan Pemimpin rumah sakit banyak tidak nyambungnya dengan rumusan visi dan misi rumah sakit. Inilah anekdotnya, sebuah impian seorang Pemimpin rumah sakit belum mampu merumuskan cara-cara pencapaian visi rumah sakit, yah! mirip-mirip impian anak kecil tadi yang belum tahu cara mewujudkan impiannya. Kalau begitu, apa bedanya? Silahkan renungkan sendiri apa kesamaan dan perbedaan antara impian seorang anak kecil dengan impian seorang Pemimpin rumah sakit di sebuah benua anta brantah.