Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM.

Beberapa waktu yang lalu, kita sudah berbicara tentang kinerja staf merupakan kinerja Atasan. Artinya, besarnya rata-rata kinerja staf akan menggambarkan bagus tidaknya kinerja Atasan. Kalau Atasan menginginkan kinerja gugus tugasnya baik atau sangat baik, tentu harus berupaya memberikan motivasi kepada staf untuk mewujudkan pekerjaannya dengan baik atau sangat baik. Bentuk motivasi yang diberikan Atasan berkaitan dengan terpenuhinya kepemimpinan yang menerapkan manajemen dan manajemen 1 menit kepada staf, dalam rangka mewujudkan hasil (prestasi) pekerjaan yang telah dilaksanakan dalam periode waktu tertentu. Penerapan manajemen 1 menit kepada staf dalam upaya pencapaian kinerja staf yang terbaik dari tugas yang sedang diemban sekarang ini.

Untuk mendapatkan kinerja gugus tugas yang baik atau terbaik, tentu dibutuhkan staf yang mumpuni dalam melakukan berbagai pekerjaan yang terdapat di gugus tugas. Staf yang mumpuni artinya staf tersebut memiliki kompetensi yang sesuai sehingga mampu menyelesaikan berbagai pekerjaannya dengan baik atau sangat baik. Pertanyaannya adalah apakah semua staf gugus tugas mumpuni atau memiliki kompetensi? Jawabnya adalah mungkin sebagian yang memiliki kompetensi dan sebagian yang kurang memiliki kompetensi. Kondisi inilah yang membuat kinerja gugus tugas biasa-biasa saja. Staf yang memiliki kompetensi pun tetapi apabila mendapatkan beban tugas yang melebihi kapasitasnya, bisa dipastikan staf tersebut mendapatkan kinerja rendah atau staf yang salah penempatan juga akan memiliki kinerja yang rendah.

Permasalahan yang terdapat pada diri staf mestinya Atasan yang paling tahu, termasuk kualitas kinerjanya untuk mewujudkan visi dan misi. Gugus tugas yang telah memiliki visi dan misi itulah yang menjadi cermin impian dan tujuan gugus tugas. Untuk mewujudkan visi dan misi gugus tugas membutuhkan staf yang kompeten. Nah, berdasarkan pengalaman, Atasan kadang tidak sempat mendalami kemampuan dan kekurangan staf, tetapi kalau ada pekerjaan yang belum terselesaikan biasanya Atasan langsung meminta tambahan tenaga. Jadi fokusnya menjadi butuh tenaga untuk segera menyelesaikan pekerjaan dan bukan pada kebutuhan tenaga yang memiliki kompetensi dalam pekerjaan gugus tugas.

Berdasarkan kebutuhan tersebut, mungkin Atasan minta tenaga Magang di gugus tugas tertentu di lingkungan rumah sakit dan honor magang dibayar rumah sakit. Tenaga magang bekerja sekitar 3-6 bulan. Tenaga yang sering berganti dengan kompetensi yang ala kadarnya tentu memiliki konsekuensi pada kinerja gugus tugas. Apabila dihubungkan dengan kinerja gugus tugas, tentu sebagian terpenuhi dengan berkurangnya pekerjaan yang terbengkalai, tetapi dalam jangka panjang kinerja gugus tugas menghadapi banyak kendala sehingga kinerja sulit diperbaiki dan ditingkatkan. Melihat kondisi tersebut, penggunaan tenaga magang berpotensi kinerja gugus tugas kurang berkembang alias bisa stagnan, bahkan sulit mendapatkan kinerja yang terbaik, karena kompetensi tenaga magang pasti masih kurang, apalagi setiap 3 bulan atau 6 bulan ada pergantian tenaga magang di pelayanan tertentu.

Kinerja gugus tugas bisa diperbaiki kalau staf yang dipekerjakan memiliki standar kompetensi dan bekerja secara terus menerus, serta didukung perhatian yang terus menerus dari Atasan dalam upaya melakukan perbaikan-perbaikan, baik pada mutu pekerjaan maupun pada kondisi kinerja gugus tugas. Dan sebaliknya, apabila sebagian pekerjaan hanya dikerjakan oleh tenaga magang, maka sangat sulit bagi gugus tugas untuk mewujudkan sebuah kinerja yang baik.