Oleh: Drs. Manahati Zebua, M.Kes., MM.

Pemahaman manajer dapat diartikan seseorang yang dipercaya untuk menangani dan bertanggungjawab pada keberhasilan pekerjaan di sebuah gugus tugas. Keberhasilan ini tentu dilihat dan diukur dari besaran persentase pencapaian visi dan misi gugus tugas, yang pengukurannya dalam periode waktu tertentu, umpamanya setiap 6 bulan atau setiap 1 tahun.

Jabatan manajer di rumah sakit banyak sekali. Mulai dari jabatan kepala urusan, kepala ruang, kepala sub bagian, kepala seksi, kepala bagian, kepala bidang, sampai pada jabatan wakil direktur dan direktur rumah sakit. Direktur dan wakil direktur disebut top manager (manajer puncak), sedang kepala bidang, kepala bagian, dan kepala instalasi disebut middle manager (manajer menengah), serta kepala seksi, kepala sub bagian, dan kepala urusan disebut low manager (manajer bawah). Mereka yang duduk dalam salah satu jabatan tersebut disebut manajer, meskipun mereka dibagi dalam beberapa tingkatan manajer yaitu manajer puncak, manajer menengah, dan manajer bawah. Pembagian tingkatan manajer ini semata-mata didasarkan pada besarnya tugas dan tanggungjawab yang dipikul oleh seorang manajer dalam mensukseskan pelaksanaan manajemen di gugus tugasnya.

Seorang manajer merupakan pelaksana fungsi-fungsi manajemen di gugus tugas. Fungsi-fungsi manajemen itu menurut Tanri Abeng dalam bukunya yang diberi judul ”Profesi Manajemen”, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pemimpinan, dan pengendalian. Semua fungsi manajemen ini merupakan satu kesatuan dan harus dilaksanakan semua oleh seorang manajer. Permasalahan yang bisa timbul di sini yaitu apakah calon manajer atau manajer telah memahami bahwa manajemen itu sebuah profesi? Kalau kita bicara tentang profesi, maka seseorang yang dikatakan memiliki profesi bila telah menguasai secara mendalam tentang bidang pekerjaan tertentu yang dilandasi pendidikan keahlian, sehingga memiliki keterampilan. Jadi, meskipun seseorang telah memiliki profesi dalam bidang pekerjaan tertentu, tidak otomatis bisa menduduki jabatan manajer. Mengapa? Karena seseorang yang menjabat manajer merupakan penyelenggara profesi manajemen. Inilah yang harus dimengerti oleh mereka yang memegang jabatan manajer atau mereka yang berkeinginan untuk dicalonkan dalam jabatan manajer pada masa yang akan datang.

Meskipun fungsi manajemen banyak dan merupakan satu kesatuan untuk digunakan dalam pengembangan dan peningkatan kinerja gugus tugas, namun yang bisa membuat suasana gugus tugas menjadi nyaman dan mantap dalam menunaikan pekerjaan yang dinamis adalah kepemimpinan seorang manajer. Hal ini menjadi sangat penting, karena fungsi pemimpinan mengandung 5 item yaitu motivasi, komunikasi, pengambilan keputusan, pengembangan staf, dan pemilihan staf. Ke-5 item ini merupakan gambaran faktor kelemahan yang dimiliki oleh sebuah gugus tugas, bahkan faktor kelemahan yang menjadi sorotan pasien rumah sakit.

Motivasi, komunikasi, dan pengambilan keputusan merupakan sarana bagi mereka yang bekerja di gugus tugas untuk selalu bersemangat dalam bekerja, mampu melakukan tugasnya dengan benar, serta mantap dalam menunaikan pekerjaan apa pun karena kecepatan dan ketepatan di dalam pengambilan keputusan untuk perbaikan dan peningkatan kinerja gugus tugas. Bayangkan kalau seorang staf tidak mendapatkan motivasi, staf banyak didiamkan, serta keputusan selalu mengambang, tentu kinerja gugus tugas tidak mudah tercapai. Demikian juga dalam hal pengembangan dan pemilihan staf kurang mendapat perhatian manajer, cenderung pelaksanaan tugas menjadi statis dan tidak dikembangkan sesuai tuntutan pasien. Oleh karena itu, sangatlah perlu bagi manajer atau calon manajer untuk bertindak profesional dalam memanajemeni gugus tugasnya.